Popular Post

Popular Posts

Jumat, 08 Maret 2019


ANTRIAN PADA STASIUN
PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU)


Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan manusia dari tahun ke tahun semakin bertambah, begitu juga dengan kemajuan jaman di segala sektor. Seiring dengan kemajuan jaman, maka sektor industri mengalami perkembangan yang pesat, terutama dengan lahirnya inovasi dan teknologi baru yang diterapkan dalam praktik bisnis baik barang maupun jasa, yang telah menuntut pengusaha untuk mencari peluang dan mencermati perkembangan pasar yang dinamis. Perkembangan pasar yang dinamis ini memicu perusahaan-perusahaan baru muncul dengan cepat, sehingga menuntut pengusaha bersaing membuat strategi-strategi yang jitu dalam segmen pasar agar perusahaan tidak ditinggalkan oleh pelanggan.
Menurut John D. Millet (2012) dalam buku Management in the public service, pengertian manajemen: “The process of directing and facilitating the work of people organized in formal group to achieve a desired end” (manajemen adalah proses pembimbingan dan pemberian fasilitas terhadap pekerjaan orang-orang yang terorganisir dalam kelompok formil untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki). Pembagian manajemen dapat dilihat dari beberapa segi, salah satunya dari segi bidang, umumnya yang diketahui masyarakat adalah manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran, manajemen keuangan, dan manajemen operasional. Salah satu ilmu manajemen yang mengajarkan tentang pembuatan strategi jitu dalam suatu perusahaan untuk mengolah secara optimal semua sumber daya menjadi berbagai barang dan jasa adalah manajemen operasional. Sumber daya disini bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia, mesin, peralatan yang menjadi satu kesatuan dalam proses produksi yang menghasilkan nilai tambah bagi suatu produk dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Pelayanan prima sangat perlu diterapkan pada suatu perusahaan agar tetap disukai pelanggan, karena pelayanan yang prima diharapkan dapat memenuhi kebutuhan serta keinginan pelanggan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan baik berupa barang maupun jasa. Perusahaan jasa merupakan unit usaha yang kegiatannya memproduksi produk yang tidak berwujud (jasa) dengan maksud meraih keuntungan. Akan tetapi, perusahaan jasa juga membutuhkan produk berwujud dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya. Misalnya, perusahaan dalam bidang perbankan yang membutuhkan karyawan dalam melayani pelanggan untuk melakukan transaksi-transaksi perbankan yang dibutuhkan. Jasa itu tidak berwujud, tidak dapat diraba, dilihat, dikecap, didengar atau dicium namun kehadirannya dapat dirasakan. Kesan baik atau buruk pada suatu pelayanan jasa dapat dilihat dari segi kinerja para karyawannya dan jasa yang dihasilkan. Jasa secara spesifikasi harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan pelanggan sehingga ia akan mendapatkan penilaian apakah telah sesuai dengan harapan atau keinginan pelanggan.
Sesuai dengan pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah dari tahun ke tahun, menyebabkan peningkatan juga terhadap kebutuhan penduduk yang harus terpenuhi. Tanpa disadari untuk dapat memenuhi kebutuhan, fenomena antri bagi manusia sudah menjadi tradisi. Antrian adalah situasi barisan tunggu dimana jumlah kesatuan fisik (pendatang) sedang berusaha untuk menerima pelayanan dari fasilitas terbatas (pemberi layanan), sehingga pendatang harus menunggu beberapa waktu dalam barisan agar mendapatkan giliran untuk dilayani (Ma’arif dan Tanjung, 2003:119). Masalah antri bahkan sudah menjadi budaya yang sedikit merugikan bagi pihak yang antri ketika jumlah antriannya sangat panjang. Panjangnya antrian juga dapat menyebabkan ruangan menjadi penuh sehingga konsumen dapat mengurungkan niatnya untuk bertransaksi.
Landasan Teori
Manajemen Operasional

Manajemen operasi (operation management -OM) adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output (Heizer dan Render, 2009:4). Tampubolon (2004:13) juga mengemukakan bahwa manajemen operasional didefinisikan sebagai manajemen proses konvensi dengan bantuan fasilitas seperti: tanah, tenaga kerja, modal, dan manajemen masukan (inputs) yang diubah menjadi keluaran yang diinginkan berupa barang atau jasa. Menurut Handoko (2000:3), Manajemen operasional adalah usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi) tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya, dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi berbagai produk dan jasa. Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen operasional merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan barang atau jasa melalui proses input menjadi output, di mana semua bagian organisasi berperan serta.
Jasa

Produk adalah barang dan jasa yang dapat diperjualbelikan. Dengan kata lain, tanpa adanya produk maka proses jual-beli tidak akan terjadi. Ada dua faktor yang menentukan laku atau tidaknya suatu produk yaitu kualitas dan harga. Kedua faktor harus diperhatikan dalam pembuatan suatu produk dan juga menentukan daya beli dari konsumen. Produk dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga macam, yaitu daya tahan dan wujud, barang konsumen, dan barang industri . Berdasarkan daya tahan dan wujud suatu produk diklasifikasikan lagi menjadi tiga kelompok, yaitu barang tahan lama, barang tidak tahan lama, dan jasa.
Teori Antrian

Antrian adalah suatu situasi umum yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari dimana konsumen menunggu di depan loket untuk mendapatkan giliran pelayanan atau fasilitas layanan. Deretan mobil yang menunggu untuk mendapatkan giliran membayar jalan tol, orang-orang yang sedang berlibur menunggu untuk masuk ke Taman Margasatwa Ragunan di Jakarta, dan para nasabah yang menunggu untuk melakukan transaksi di bank adalah beberapa contoh dari situasi antrian.
Menurut Heizer dan Render (2006:658) antrian adalah ilmu pengetahuan tentang bentuk antrian dan merupakan orang-orang atau barang dalam barisan yang sedang menunggu untuk dilayani atau meliputi bagaimana perusahaan dapat menentukan waktu dan fasilitas yang sebaik-baiknya agar dapat melayani pelanggan dengan efisien. Menurut Ma’arif dan Tanjung (2003:119) antrian adalah situasi barisan tunggu dimana jumlah kesatuan fisik (pendatang) sedang berusaha untuk menerima pelayanan dari fasilitas terbatas (pemberi layanan), sehingga pendatang harus menunggu beberapa waktu dalam barisan agar mendapatkan giliran untuk dilayani. Berdasarkan definisi-definisi diatas maka dapat disimpulkam bahwa antrian adalah suatu proses yang berhubungan dengan suatu kedatangan seorang pelanggan pada suatu fasilitas pelayanan, kemudian menunggu dalam suatu antrian dan pada akhirnya meninggalkan fasilitas tersebut.

Rata – rata lamanya waktu menunggu (waiting time) sangat tergantung kepada rata – rata tingkat kecepatan pelayanan (rate of services). Teori tentang antrian diketemukan dan dikembangkan oleh A.K. Erlang, seorang insinyur dari Denmark yang bekerja pada perusahaan telepon di Kopenhagen pada tahun 1910. Erlang melakukan eksperimen tentang fluktuasi permintaan fasilitas telepon yang berhubungan dengan automatic dialing equipment, yaitu peralatan penyambungan telepon secara otomatis. Tujuan sebenarnya dari teori antrian adalah meneliti kegiatan dari fasilitas pelayanan dalam rangkaian kondisi random dari suatu sistem antrian yang terjadi. Untuk itu pengukuran yang logis akan ditinjau dari dua bagian, yaitu berapa lama para pelanggan harus menunggu yang dalam hal ini diuraikan melalui waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh pelanggan untuk menunggu hingga mendapatkan pelayanan dan berapa persenkah dari waktu yang disediakan untuk memberikan pelayanan itu fasilitas pelayanan dalam kondisi menganggur.

Teori antrian merupakan sebuah bagian penting operasi dan juga bermanfaat didalam dunia usaha karena masalah dunia usaha yang berkaitan dengan kedatangan dan kemacetan akan terbantu dengan adanya teori antrian ini. Tujuan utama teori antrian ini adalah mencapai keseimbangan antara ongkos pelayanan dengan ongkos yang disebabkan oleh waktu menunggu.
Metode Penyelesaian
pemecahan masalah yang digunakan dalam menjawab permasalahan dari penelitian ini
1.   Start, yaitu tahap awal atau persiapan sebelum melakukan penelitian terhadap masalah yang dihadapi.

2.   Pengumpulan data, yaitu tahap dimana peneliti melakukan pengumpulan data yang diperlukan untuk mendukung kelengkapan sebuah penelitian.

3.   Menganalisis data yang telah dikumpulkan dengan menggunkan model jalur berganda.

4.   Menganalisis data yang dikumpulkan dengan menggunakan rumus Model Jalur Berganda yaitu tahap untuk mengetahui probabilitas 0 orang dalam sistem (Po), jumlah pelanggan rata-rata dalam sistem (Ls), waktu rata-rata yang dihabiskan dalam antrian (Ws), jumlah rata-rata orang yang menunggu dalam antrian (Lq), dan waktu rata-rata yang dihabiskan oleh pelanggan untuk menunggu dalam antrian (Wq).

5.   Menganalisis tingkat pelayanan optimal untuk menentukan jumlah jalur fasilitas yang optimal.

6.   Menganalisis kinerja waktu pelayanan pada tingkat optimal.

7.   Mengambil kesimpulan dari hasil penelitian berdasarkan analisis yang dilakukan.
8.   Stop menunjukan berakhirnya kegiatan penelitian.


Hasil dan Analisa
Fasilitas yang disediakan untuk melayani pelanggan pengisian bahan bakar umum sepeda motor berjumlah empat (4) fasilitas dengan pelayanan satu tahap maka dapat dianalisa dengan menggunakan model sistem antrian jalur berganda. Analisis sistem antrian dengan model jalur berganda atau dengam notasi model B: M/M/S

M = Jumlah jalur yang terbuka

λ    = Jumlah kedatangan rata-rata per satuan waktu

μ   = Jumlah rata-rata yang dilayani persatuan waktu pada setiap jalur


Jumlah Pelanggan Rata-Rata dalam Seluruh Sistem

Jumlah pelanggan rata-rata dalam seluruh sistem merupakan jumlah rata-rata pelanggan yang menunggu untuk dilayani oleh fasilitas dan termasuk pelanggan yang sedang dilayani. Jumlah pelanggan yang dihitung adalah pelanggan yang menunggu mendapatkan giliran untuk melakukan pengisian bahan bakar umum dan pelanggan yang sedang mendapatkan pelayanan dari fasilitas.

Jumlah pelanggan rata-rata dalam sistem merupakan petunjuk tentang berapa jumlah pelanggan yang dilayani oleh spbu selama jam kerja beserta jumlah antrian pelanggan yang sedang menunggu untuk mendapatkan pelayanan. Informasi ini dapat dipergunakan sebagai dasar penentuan jumlah jalur pelayanan yang dibuka supaya antrian yang terjadi tidak menumpuk dan pelanggan dapat segera mendapatkan pelayanan.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil analisa yang telah dilakukan dengan menerapkan teori antrian pada SPBU Gajah Mada Jember adalah sebagai berikut.

1.    Jumlah jalur fasilitas yang optimal pada SPBU Gajah Mada Jember adalah 5 jalur fasilitas. Tingkat pelayanan yang tersedia untuk jam tertentu apabila dibandingkan dengan pola kedatangan pelanggan dapat dikatakan kurang optimal. Untuk menentukan tingkat pelayanan yang optimal dilakukan dengan metode perbandingan antara sebelum penambahan jumlah jalur fasilitas yaitu sebanyak 4 jalur fasilitas dan sesudah penambahan jalur fasilitas menjadi 5 jalur fasilitas. Hasil yang diperoleh dari perhitungan tingkat pelayanan yaitu terdapat peningkatan tingkat pelayanan ketika jumlah jalur fasilitas ditambah 1 (menjadi 5 jalur fasilitas). Pada periode jam 06.00-07.00 waktu pelayanan yang dibutuhkan sebelum penambahan jalur fasilitas sebesar 0,305 menit sedangkan sesudah penambahan jalur fasilitas waktu yang diperlukan sebesar 0,304 menit. Pada jam 07.00-08.00 waktu pelayanan yang dibutuhkan sebelum penambahan jalur fasilitas sebesar 0,310 menit sedangkan sesudah penambahan jalur fasilitas waktu yang diperlukan sebesar 0,306 menit. Pada jam 12.00-13.00 waktu pelayanan yang dibutuhkan sebelum penambahan jalur fasilitas sebesar 0,3046 menit sedangkan sesudah penambahan jalur fasilitas waktu yang diperlukan sebesar 0,3041 menit. Pada jam 13.00-14.00 waktu pelayanan yang dibutuhkan sebelum penambahan jalur fasilitas sebesar 0,305 menit sedangkan sesudah penambahan jalur fasilitas waktu yang diperlukan sebesar 0,304 menit. Pada jam 20.00-21.00 waktu pelayanan yang dibutuhkan sebelum penambahan jalur fasilitas sebesar 0,305 menit sedangkan sesudah penambahan jalur fasilitas waktu yang diperlukan sebesar 0,304 menit. Pada jam 21.00 - 22.00 waktu pelayanan yang dibutuhkan sebelum penambahan jalur fasilitas sebesar 0,305 menit sedangkan sesudah penambahan jalur
fasilitas waktu yang diperlukan sebesar 0,304 menit. Biaya yang harus dikeluarkan untuk penambahan 1 jalur fasilitas adalah 0 rupiah, karena SPBU Gajah Mada Jember tidak perlu membangun fasilitas dan juga tidak memerlukan penambahan sumber daya manusia untuk mengoperasikan 1 jalur fasilitas tambahan pada periode jam sibuk.

2.       Kinerja sistem pelayanan dengan 4 jalur fasilitas di SPBU Gajah Mada Jember pada proses pengisian ulang bahan bakar umum dinilai kurang optimal, karena masalah kinerja sistem antrian pada SPBU Gajah Mada Jember adalah waktu pelayanan pelanggan untuk mendapatkan giliran untuk dilayani. Berdasarkan perhitungan menggunakan model sistem antrian jalur berganda atau Multiple Channel Quiuery System maka waktu pelayanan yang diperlukan dengan 4 jalur fasilitas pada periode jam sibuk, yaitu periode jam 07.00 – 08.00 sebesar 0,310 menit dengan rata-rata kedatangan pelanggannya sebesar 284 orang. Kinerja pelayanan pada proses pengisian ulang bahan bakar umum dapat diatasi dengan penambahan satu jalur fasilitas (menjadi 5 jalur fasilitas) pada saat periode jam sibuk, maka waktu pelayanan pada saat 5 jalur fasilitas menjadi lebih cepat dibandingkan dengan sebelum penambahan jalur fasilitas. Waktu pelayanan yang diperlukan oleh SPBU Gajah Mada Jember pada saat 5 jalur fasilitas adalah 0,306 menit sehingga kinerja sistem pelayanan dengan 5 jalur fasilitas pada jam sibuk menjadi optimal.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Number one - Devil Survivor 2 - Powered by Cyber Rick - Designed by Rick -